SUGENG RAWUH DATENG GUBUK ONLINE RAZY SAMUDRA: Blog ini kami sajikan untuk pengunjung, guna saling menambah khazanah keilmuan

Mencoba berbagai gaya

Gambar tersebut diambil dari berbagai macam kegiatan sik asik di MAN 2 Bojonegoro, Adventure ke Pacitan, Ponorogo, Wonogiri, Magetan dll.

Launching Website PW ISHARI Jatim

Rakorwil 2 PW ISHARI Jatim di PP. Sunan Kali Jaga Jabung Malang, tanggal 6-7 Maret 2015.

ISTIHLAL dan KAJIAN ASWAJA

ISTIHLAL DAN KAJIAN ASWAJA oleh Majelis Pembina Taman Pendidikan Al Qur'an An Nahdliyah th 2013 di ISLAMIC CENTRE Bojonegoro.

PERESMIAN GEDUNG TPQ/MADIN AS SALAM Bulu

Peresmian Gedung TPQ/Madin AS SALAM Bulu Balen Bojonegoro pada tanggal 28 Mei 2014.

WISUDA SANTRI TPQ

Wisuda Santri Taman Pendidikan Al Qur'an An Nahdliyah Cabang Bojonegoro di Islamic Centre Bojonegoro.

Tuesday, June 16, 2015

Biografi; Syaikh Jalaluddin Al Suyuthi

Al Suyuthi lahir di Cairo setelah Maghrib malam Ahad 1 Rajab 849 H/3 Oktober 1445 M, dan wafat pada 18 Jumadil Awwal 911 H/17 Oktober 1505 M. Dia adalah seorang ulama besar dan penulis yang produktif dalam berbagai disiplin ilmu. Nama lengkapnya Jalaluddin Abu Al Fadl Abdurrahman Ibn Al Kamal Abu Bakar ibn Muhammad Ibn Sabiquddin ibn Al Fakhr Utsman ibn Nadhiruddin Muhammad Ibn Syaifuddin Khidlr ibn Najmuddin Abu Al Sholah Ayyub ibn Nashiruddin Muhammad Ibn Al Syaikh Hammamuddin Al Khudlari Al Suyuthi. Dia hidup pada masa dinasti Mamluk pada abad ke-15, berasal dari keluarga keturunan Persia yang semula bermukim di Baghdad, kemudian pindah ke Asyuth.
Hammamudin, kata Al Suyuthi, adalah ahli hakekat dan syaikh thariqah, sementara nasab Al Suyuthi setelah Hammam merupakan orang-orang terpandang dan menempati berbagai profesi yang terhormat, ada yang menjadi pejabat pemerintahan, ada yang menjadi pedagang dan lain-lain. Namun hanya bapaknya saja yang menekuni bidang ilmu. Bapaknya menjadi salah seorang guru fikih di tahun (855H/1451 M), ayahnya meninggal dunia, dan dia kemudian diasuh oleh seorang sufi, teman dekat bapaknya.
Sebagaimana biasanya anak-anak pada zaman itu, Al Suyuthi memulai pendidikannya dengan pelajaran membaca Al Qur’an dan pendidikan agama lainnya. Dia hafal Al Quran sebelum berusia 8 tahun, dan setelah itu hafal kitab Al Umdah, Minhajul Fiqh wal Ushul, dan Alfiyah Ibn Malik. Ketika berumur 15 tahun, dia telah menguasai berbagai bidang ilmu yang ia dapatkan dari beberapa orang gurunya, terutama ilmu Fikih dan Nahwu. Dari satu kota ia pindah ke kota lain untuk menuntut ilmu agama dengan berbagai cabangnya kepada guru-guru yang terkenal pada saat itu.
Al Suyuthi mulai mengajar bahasa Arab dalam usia yang sangat muda, kurang dari 16 tahun, yaitu pada awal tahun 866 H/1460 M, dan pada tahun ini pula dia untuk pertama kalinya menulis buku. Buku pertamanya adalah Syarah Al Istiadzah wal Basmalah. Buku ini diberi pengantar gurunya, Syaikhul Islam Ilmuddin Al Bulqini, yang menjadi guru Fiqhnya hingga wafatnya. Tak hanya sampai disitu Al Suyuthi belajar Fiqh, ia meneruskan belajarnya kepada putera Al Bulqini, hingga dia diberi ijazah untuk berfatwa pada tahun 876 H. sepeninggal guru Fiqihnya yang terakhir ini pada tahun 878 H, Al Suyuthi melanjutkan belajar Fiqihnya dan bidang Tafsir kepada Syaikhul Islam Syarafuddin Al Manawi.
Dalam bidang Hadits, Al Suyuthi belajar kepada Imam Al Allamah Taqiyuddin Al Syibli Al Hanafi selama empat tahun. Gurunya ini yang memberikan pengantar (taqridh) terhadap Syarah Alfiyah Ibn Malik dan Jam’ul Jawami’ karyanya.
Masih banyak lagi guru-guru Al Suyuthi antara lain: Muhyiddin Al Kafiyaji. Al Suyuthi belajar kepadanya selama empat belas tahun dalam berbagai bidang ilmu, seperti Tafsir, Ushul Fiqh, bahasa Arab dan Balaghah.Ada juga Syaikh Syaifuddin Al Hanafi, yang mengajarnya berbagai kitab, antara lain Al Kasysyaf dan Al Taudlih.
Sesudah menunaikan haji ke Makkah paad tahun 869 H/1463 M, ia kembali ke Cairo untuk mengabdikan ilmu yang ia terima sebelumnya. Semula ia menghususkan diri untuk mengajar, ia diangkat menjadi ustadz di Madrasah Al Syaikhuniyah pada tahun 872 H/1467 M, berdasarkan rekomendasi dari gurunya Syaikh Al Bulqini. Jabatan sebelumnya dipegang oleh ayahnya sampai ia meninggal dunia. Selama 12 tahun ia mengabdikan dirinya di madrasah tersebut, lalu pindah mengajar ke Al Baibarsiyah pada tahun 891 H/1486 M. Madrasah yang baru ini menurut pendapatnya dan juga pendapat umum waktu itu lebij baik daripada Al Syaikhuniyyah. Di Madrasah ini ia juga diangkat menjadi ustadz. Akan tetapi karena suatu tindakannya yang tidak disenangi penguasa, ia dibebastugaskan dari jabatan tersebut pada tahun 906 H/1501 M. Ia kemudian menetap di Pulau Raudlah di Sungai Nil, sampai meninggal dunia pada hari Kamis, 9 Jumadil Awwal 911 H.
Karya-karyanya
Disamping aktif mengajar ilmu agama Islam, Al Suyuthi juga banyak menulis buku dalam berbagai ilmu. Aktivitas mengarang ini, sebagaimana telah disebutkan, telah ia mulai sejak berumur 16 tahun. Penguasaannya yang baik atas berbagai cabang ilmu Islam sangat memperlancar penulisan karangan-karangan tersebut. Menurut pengakuannya, sebagaimana yang dikutip oleh Harun, karangannya mencapai 300 judul buku, selain buku-buku yang dimusnahkan sendiri. Namun menurut catatan para sejarawan, buku-bukunya berjumlah 571 buah, baik berupa karya besar dengan halaman yang banyak, maupun buku-buku kecil dan karangan-karangan singkat. Bahkan, dikatakan bahwa Al Suyuthi sangat berjasa dalam menampilkan kembali manuskrip-manuskrip lama yang pada waktu itu telah dianggap hilang.
Diantara karangannya yang terkenal dalam bidang Tafsir dan Ilmu Tafsir adalah: Tarjumun Al Quran fi Tafsir Al Musnad, Kumpulan hadits yang berhubungan dengan penafsiran ayat-ayat Al Quran; Al Durr Al Mantsur fi Al Tafsir bi Al Ma’tsur (Mutira bertebaran dalam penafsiran berdasarakan Al Quran dan Hadits) 6 jilid; Mufhamat Al Aqran fi Mubhammat Al Quran (Upaya mencari pemahaman hal-hal yang sama mengenai ayat-ayat yang tidak tegas dalam Al Quran); Lubab Al Nuqul fi Ashab Al Nuzul (Hal-hal pokokdalam persoalan sebab-sebab turunnya ayat Al Quran) yang disusun berdasarkan metode Al Wahidi, namun memuat pula tambahan materi berdasarkan temuan-temuannya dari Tafsir dan Hadits; Tafsir Al Jalalain, penyempurnaan sebuah kitab Tafsir yang ditulis oleh gurunya Jalaluddin Al Mahalli; Majma’ Al Bahrain w a Mathla’ Al Badrain, yang memaparkan segala permasalahan furu’ dalam Al-Quran, tetapi menurut para sejarawan mungkin telah hilang atau tak sempat disempurnakan; dan Al Takhyir fi Ulum Al Tafsir, yang kemudian diperluas dengan judul Al Itqan fi Ulumul Quran.
Adapun buku-bukunya dalam bidang Hadits dan Ilmu Hadits antara lain adalah; Jami’ Al Masanid, yang dikenal juga dengan sebutan Jamul Jawami’ dan Al Jamiul Kabir, Al Jami’us Shagir fi Al Hadits Al Basyir fi Al Hadits Al Basyir Al Nadzir, Iktishar dari Aqwal wa Al Af’al; Kanzul Ummal fi Tsubut Sunan Al Aqwal wa Al’al, 8 jilid; Al Khashaish Al Nabawiyyah, sebuah buku tentang sifat-sifat Nabi Muhammad SAW; Al Ta’qabat Al Maujudat, yang memuat masalah-masalah kritik hadits kemudian disempurnakan dengan judul Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al Maudlu’ah.
Dalam bidang bahasa Arab, Al Suyuthi juga menulis beberapa buku, diantaranya Al Mudzhir fi Ulum Al Lughah dan Al Iqtirah fi Ilm Ushul Al Nahw wa Jidalih. Ia juga menulis Aysbah wa Al Nadhairfi Al Nahwi. Pada kesempatan lain ia mengumpulkan hadits-hadits khusus tentang permulaan ilmu Nahwu dalam Al Akhbar Al Marwiyyah fi Sabab Wadl’ Al Arabiyyah. Kemudian ia juga memberikan syarah (komentar) terhadap kitab Alfiyyah Ibn Malik dibawah judul Al Bahjah Al Mardiyyah. Kitab lainnya adalah Al Faridah fi Al Nahw wal Tashrif wa Al Khath, Jam’ul Jawami’ yang kemudian diberi komentar sendiri dengan judul Ham’ Al Hamami’ fi Syarah Jamul Jawami’.
Dalam bidang lain Al Suyuthi juga menulis banyak buku. Dalam bidang sejarah, ia menulis Badai’ Al Zuhur fi Waqa’ Al Duhur, Tarikh Khulafa’, dan Husnul Muhadlarah fi Akhbar Mishr wa Al Qahirah.
Kemudian dalam bidang Sastra terdapat Maqamat, Anis Al Jalis, dan sebagainya. Selanjutnya ia juga diketahui menulis buku-buku yang berhubungan dengan hari akhirat, kubur dan alam barzakh, dianataranya Al Tadzkirah bi Ahwal Al Mauta wa Ahwal Al Akhirah, kemudian diberi komentar dengan judul Syarah Al Shudur fi Syarah Hal Al Mauta wa Al Qubur, Al Tsabit Inda Tanbit, dan Kitab Ad Durar Al Hisan, Al Hisan fi Al Ba’ts wa Naim Al Jinan. Bukunya yang terkenal dalam bidang Kaidah Fiqh adalah Al Asybah wa Al Nadhair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh Al Syafii. Dalam kitab ini, secara gamblang dengan contoh-contoh penerapan, ia berusaha mejelaskan kandungan Al Qawaid Al Khamsah (Lima Kaidah) yang berlaku dalam Madzhab Syafi’i, madzhab yang dia anut.
Copas dari Penulis; Moh Habib (Dosen Fakultas Adab jurusan Bahasa Arab dan Sasra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Wednesday, April 22, 2015

TUTUR TINULAR PARA WALI DAN ULAMA DALAM KEGIATAN ISHARI



TUTUR TINULAR PARA WALI DAN ULAMA
DALAM  KEGIATAN ISHARI

Banyak sekali cerita cerita menarik dan bernuasa religius yang terjadi didalam kegiatan ISHARI, baik yang dilakukan oleh para Wali maupun Ulama bahkan orang biasa sehingga dapat menghasilkan kisah menarik dan penuh dengan ketakjuban, kisah dan cerita yang diungkapkan ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kisah dan cerita yang ada dalam kegiatan Hadroh atau ISHARI, seperti berikut ini :

1.      Diselamatkan oleh “Rosululloh SAW”
Pada saat acara haul Mbah Karimah Kembang kuning Surabaya dimana pada acara tersebut pada malam harinya diadakan kegiatan Hadroh oleh Hadrotus Syeikh KH Abdurrokhim dan para Santrinya. Pada acara tersebut seperti biasanya dari pihak penyelenggara menyiapkan jamuan, namun ada yang ganjil dalam jamuan tersebut yaitu ada beberapa serdadu compeni belanda yang bermaksud membunuh KH Abdurrokhim dan para santrinya dengan cara memberikan racun pada makanan dan minuman yang akan disajikan, akan tetapi terjadi keanehan dimana ada sosok yang gagah dan perkasa serta berwajah tampan memakai jubah putih dan berkalung surban hijau datang mencegah kepada para serdadu sehingga para serdadu belanda tersebut lari pontang panting bahkan ada yang pingsan, pada saat dia sadar dari pingsannya maka ditanyailah dia tentang apa yang terjadi, dengan memohon maaf serta penuh rasa menyesal serdadu tersebut bercerita tentang maksud dan tujuannya, serta tentang kedatangan sosok yang mencegah tersebut, ketika ditanyakan kepada Hadrotus Syekh KH Abdurrokhim siapakah sosok tersebut beliau tidak menjawab dan berlalu sambil tersenyum kecil ( subhanalloh !! mungkinkah itu Rosululloh datang menyelamatkan ummatnya yang tengah membaca riwayat beliau dan menyanjung beliau )
“ Cerita ini dari bani Abdurrokhim.”

2.      Berondongan Peluru meleset
Pada sekitar tahun 1948 dimana di derah Jawa Timur tengah bergolak perang oleh rakyat untuk menghadapi Agresi militer sekutu dan belanda, kebetulan pada saat yang bersamaan ada kegiatan Haul Mbah Karimah di Kembang Kuning Surabaya, seperti biasanya acara tersebut dihadiri oleh KH Abd Rokhim dan para jamaahnya, namun ketika KH Sya’roni menjemput beliau di kediamanNya beliau kurang sehat sehingga tidak bisa hadir pada acara haul tersebut. Beliau bilang “ wis budalo Syak, karo konco konco liyane, aku gak iso hadir, awakku kurang sehat,  engkuk badalno nang sopo ae sing hadir kanggo mimpin !. Enggeh yai, jawab Kyai Sya’roni. Tapi rencang rencang ajreh yai, polae teng porong sak pengaler sakniki wonten perang, sedoyo ingkang liwat teng mergi meriku di bedili kale londo !, enggak wis budalo, ambik ojok leren leren moco o Shollallohu ‘alal madani sak pitutuke insya Alloh selamet, jawab beliau. Dengan perasaan was-was dan ragu berangkatlah Kyai Sya’roni ditemani beberapa jama’ah naik kendaraan dokar (delman) ke Surabaya, tiada henti mereka semua membaca Sollallohu ‘alal madani Muhammad Rofi’issyan ma gorrod ‘alal fanani qumriyun ‘alal Agshon (sebuah syair Sholawat dalam mukhud Tanaqqol ta). Dan ternyata kekhawatiran Kyai Sya’roni menjadi kenyataan sesampai di kota porong Sidoarjo rombongan mereka bukan dicegat oleh pasukan sekutu melainkan langsung diberondong tembakan yang bertubi-tubi, secara akal  mestinya mereka tewas semua, namun keajaiban terjadi, tiada satupun peluru yang ditembakkan serdadu sekutu kepada rombongan tersebut mengenai sasaran, bahkan kuda delmannya pun juga selamat tak tertembus peluru sama sekali. Akhirnya rombongan ini selamat sampai dikembang kuning dan melaksanakan pembacaan maulid bil Hadroh, ketika disampaikan hal tersebut kepada KH Abdurrokhim, beliau tersenyum sambil menjawab “ iyo, kalimah syair Sholawat iku aku oleh ijazah langsung teko kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yo mesti ae mandi lan diselametno karo Gusti Alloh”
Cerita dari KH Munif Sya’roni

3.      Ibu ibu jadi lupa memasak.
lain halnya dikembang kuning lain pula yang terjadi di sidosermo Surabaya dimana pada acara kegiatan Hadroh di situ para ibu ibu dikomplek pondok tersebut banyak yang sinis bahkan mencibir dengan bergumam “ ah , model bacaan maulid apa yang dibawakan kyai Abdurrokhim itu ? “ mungkin pada saat yang bersamaan beliau Hadrotus Syekh mengetahui hal tersebut, sehingga beliau sesumbar dan berkata “ saya tidak akan pernah hadro-an disini kalau para ibu-ibu tidak takjub terhadap bacaan yang saya baca nanti, maka Subhanalloh lagi-lagi kebesaran Alloh SWT ditunjukkan, ketika kyai mulai membaca Assalamu Alaika zainal Anbiya’I, para ibu ibu di areal komplek datang dengan tanpa rasa malu berduyun duyun melihat dan mendengarkan bacaan Maulid sampai dengan selesai, saking senangnya para ibu-ibu sampai lupa kalau harus menyiapkan hidangan untuk para tamu, maka jadilah acara tersebut diakhiri dengan tanpa ada jamuan karena para ibu-ibunya lupa memasak saking senangnya melihat kyai Abdurrokhim dan para santrinya ber Hadroh-an.
“ Cerita ini dari Bani Abdurrokhim.”

4.      Jenazah mau terangkat  hanya dengan Hadroh
Al Habib Abdulloh Bin Segaf Assegaf pegirian Surabaya, beliau adalah salah satu Habaib yang sangat menyukai kegiatan Hadroh, suatu saat beliau berpesan kepada keluarganya, “ kalau saya meninggal dunia, tolong jenazahku nanti diantar kepemakaman dengan diiringi bacaan Mahallul Qiyam dan Hadroh oleh kyai Abdurrokhim Pasuruan ya !”, tidak lama setelah itu beliau benar benar dipanggil ke Rahmat Alloh (Wafat). Seluruh keluarga sibuk melaksanakan persiapan prosesi Jenazah sehingga lupa terhadap pesan beliau, ribuan pelayat hadir guna memberikan penghormatan yang terakhir terhadap ulama yang juga Dzurriyah Rosululloh ini, pada saat keranda Jenazah mau diangkat ke pemakaman ternyata tidak bisa diangkat, sampai dengan diangkat 20 orang pun tetap keranda Jenazah beliau tidak bisa diangkat, para pelayat kebingungan sampai akhirnya ada dari keluarga yang ingat pesan beliau ketika masih hidup, serta merta pada saat itu juga dari pihak keluarga menjemput KH Abdurrokhim ke Pasuruan, mengetahui bahwa yang meninggal adalah putra guruNya, beliau langsung bergegas dengan membawa Hadroh ikut serta bersama rombongan yang menjemputNya ke Surabaya, sesampai di Rumah duka beliau langsung Sholat Jenazah dan membaca Ya Nabi Salam ‘Alaika, dst. dikuti oleh para pelayat untuk mengangkat Jinazah, namun tetap saja keranda jinazah tidak bisa diangkat, lantas KH Abdurrokhim memberikan Isyarat agar rebana HadrohNya di mainkan mengiringi jawaban Syair Sholawat, Subhanalloh hanya dengan 4 orang, Jenazah beliau bisa diangkat menuju ke pemakaman bahkan terasa seperti terangkat dan berjalan sendiri.
“ dari banyak Sumber dan dari keluarga bani  Abdurrokhim”

5.      Sang Terompa emas kencing di Masjid
Dikembang kuning pada saat Haul mbah Karimah, seperti biasanya dilaksanakan pembacaan Sholawat Hadroh dan kebetulan pada saat itu hujan gerimis sehingga setiap orang harus bersih kakinya ketika akan memasuki areal masjid tempat dilakukannya pembacaan Sholawat, syahdan hadirlah ketika itu Gus Ud (panggilan Akrab Al Arif Billah KH Ali mas’ud Pagerwojo) dan beliau bergegas ke masjid untuk memimpin mukhud dengan tidak memakai sandal, namun aneh ketika naik ke masjid tidak ada sedikitpun kotoran dikaki beliau, dan pada saat di ledek oleh Gus Masykur Muhammad “ lo Gus ! kok mboten damel terompa ? beliau menjawab “wis kok, terompa emas – terompa emas“ kilahnya, dan langsung beliau memimpin mukhud tanaqqolta saat itu, kemudian kembali beliau bersikap aneh yaitu ditengah sedang membacakan sholawat beliau berdiri dan kencing dihadapan peserta roddad, namun air kencing beliau tidak ada sedikitpun yang mengenai para pe Roddad yang didepan namun justru mengenai orang yang ada dikejauhan dari posisi beliau, sehabis itu beliau melanjutkan kembali memimpin mukhudnya, setelah berselang lama, eh kok kebetulan orang yang terkena air kencing Gus Ud saat dikembang kuning itu dikemudian hari mereka adalah orang orang yang keikutsertaanya di ISHARI hanya untuk mencari keuntungan pribadi semata dan sering membuat ulah tidak baik di Organisasi ISHARI.
Cerita dari KH. Anshori Nasir Sidogiri.

6.      Klontongan Usang penyelamat dari Bencana
Suatu hari beliau Gus ud berkunjung ke kediaman KH Sya’roni Baujeng dan mengajaknya bepergian keliling di sekitar Wilayah Bangil, sampai pada salah satu rumah warga yang kebetulan orang ini termasuk orang kaya yang banyak memiliki kuda dan sapi berikut kandangnya, syahdan Gus Ud langsung ke areal kandang tersebut dan berteriak, “ eh tulungen iku ! tulung delok en iku ono opo dek ningsor iki, ? kemudian yai Syakroni menjawab “mboten enten nopo-nopo Gus “ beliau menimpali “loh enggak enggak, onok iku tulung kedukno ! maka dengan serta merta Kyai Sya’roni menyuruh salah satu santrinya untuk menggali ditempat yang ditunjuk Gus Ud, diceritakan bahwa tempat yang ditunjuk kemudian digali adalah tempat tumpukannya Celetong (kotoran sapi/kuda). Setelah digali sampai kedalaman kira 2 meter dari permukaan tanah ternyata belum menemukan sesuatu. Akhirnya kyai Sya’roni matur kepada Gus Ud, “ Gus ! mboten enten nopo npone gus ! beliau agak marah sambil menjawab “ loh, ono iku. ono iku, iku aku ketok murup terusno wis ! dengan penuh ketidak mengertian terus saja si santri menggali, dan ternyata dia hanya menemukan klontongan rebana Hadroh yang sudah lapuk dan sangat jelek. Langsung saja santri ini bilang “ niki ta mbah engkang dipun padosi jenengan ? dengan riang beliau mengiyakan seraya ber ucap “iyo, iyo iku sing tak karepno jaluk tulung umbahno yo sing bersih terus warahno pisan nang sing duwe umah, tak jaluk aku yo ? waraen sing ikhlas yo ?.  enggeh mbah, jawab santri tersebut sambil bergegas melaksanakan apa yang diperintah Gus Ud. Lantas pulanglah beliau-beliau semua dengan memabawa klontongan rebana yang usang tadi, ditengah perjalanan kyai Sya’roni bertanya kepada Gus Ud, “damel nopo Gus ? niku mpun awon kulo gantosi engkang sae mawon engge gus ? beliau menjawab “engkuk awakmu weruh dewe Syak (panggilan Akrab KH Sya’roni). Selang dua hari terjadi kebakaran besar menimpa di daerah dekat Pager wojo Sidoarjo dan seluruh rumah dikampung tersebut (kira-kira 10 rumah) semua ludes terbakar dan hanya ada satu justru yang posisi bangunannya ditengah tidak terbakar, semuanya masih utuh, dan tentu saja semua orang heran dibuatnya. Ternyata rumah yang selamat tersebut adalah milik Anggota ISHARI yang kemarin harinya dikunjungi Gus Ud dan beliau memberikan Klontongan Rebana yang diambil dari menggali di daerah Bangil itu, beliau berpesan kepada si pemilik rumah “tulung iki templekno dek tembok umahmu yo !” Subhanalloh, Maunah dan Maziah dari Alloh bisa tertempel di klontongan rebana yang usang dan menjadi wasilah selamatnya sebuah rumah dari bencana kebakaran.
Cerita dari KH Munif Sya’roni Baujeng.

7.      Sok Alim yang terpelanting
Di daerah kecamatan lekok Pasuruan ada seorang ustadz yang merasa ingkar atas cara Majlis hadi membaca dan memimpin acara Maulid Hadroh, lazim di dengar dari beliau-beliau dalam melantunkan dan melafadzkan kalimah kalimah berbunyi tidak sesuai dengan ilmu tajwid, contohnya seperti A YA NABI A SALAM ‘ALAIKA, A YA ROSUL SALAM ‘ALAIKA A YA HABIB SALAM ‘ALAIKA A SHOLAWATULLOH ‘ALAIKA, dengan tambahan bunyi huruf “A” pada setiap lafadz awalnya. Dia (ustadz) bilang kepada salah satu pimpinan ISHARI  di daerah tersebut “kalau begini caranya orang orang ISHARI membaca, mereka akan dosa semua karna tidak memakai Ilmu Tajwid. dikarnakan pimpinan ISHARI tersebut enggan berdebat akhirnya dia (pimpinan) menimpali dengan mengajak dia (ustadz) sowan ke KH Abdul Hamid Pasuruan, agar memperoleh penjelasan boleh tidaknya melafadzkan seperti itu. Jadilah mereka berdua berangkat ke kediaman KH Abdul Hamid esok harinya, dan sesampai di kediaman beliau, mereka berdua langsung disambut olehNya dengan cara beliau memegang rebana Hadroh sambil melantunkan Syair A YA NABI A SALAM ‘ALAIKA, A YA ROSUL SALAM ‘ALAIKA A YA HABIB SALAM ‘ALAIKA A SHOLAWATULLOH ‘ALAIKA, dengan tambahan bunyi huruf “A” pada setiap lafadz awalnya. Lalu beliau berujar “Enak – an ngene yo ? yo, yo enak an ngene. Dan akhirnya si Ustadz ini malu, tidak sampai mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya menghadap beliau.
Cerita dari Ust.Rawakhid lekok.

8.      Pulang kepada yang dicinta
Di daerah Pasuruan dan sekitarnya hampir bisa dipastikan ketika ada Walimah baik itu walimah ‘Arusy atau yang lainnya selalu dibacakan Maulid Nabi dengan diiringi Hadroh pada saat Mahallul qiyam, dan pernah suatu hari beliau KH Abdul hamid mendapatkan undangan Walimah dari salah satu kerabatnya di Jember, sehingga beliau berangkat naik mobil mengajak sebagian keluarga dan santri, sesampai di Probolinggo beliau bertanya kepada salah satu santri di dalam mobil tersebut, apakah sudah bawa Hadroh ISHARI untuk walimah nanti ? santri tersebut menjawab, maaf yai kami lupa ? beliau menimpali, oh kalau begitu balik saja ke Pasuruan ambil Hadroh Dulu ! demi hanya mengambil Hadroh beliau memerintahkan rombonganNya kembali ke Pasuruan, Subhanalloh sungguh sebuah pengakuan yang luar biasa dari seorang waliyulloh terhadap ISHARI.
Demikian pula pada saat WafatNya Alm.KH Muhammad Bin Abdurrokhim pada hari senin malam selasa tanggal 4 Robiul Awwal bertepatan dengan tanggal 20 Desember 1982, dalam keadaan kurang sehat beliau jalan kaki dari kediaman beliau datang bertakziyah sekitar jam 12 malam ditemani beberapa santri, setelah solat jenazah dan berdo’a beliau berkata dengan suara agak keras sampai di dengar banyak orang, “ kang Mad yo wis Budaloh disek Salam yo Nang Kanjeng Nabi Muhammad SAW marine ngene aku yo nututi” setelah itu beliau pulang dan mengatakan kepada banyak orang, “Kang Mad iku wis di enteni nang Rosululloh, jane masih aku lek koyok kang mad ngene yo nemen geleme lek budal saiki. Subhanalloh !.. selang lima hari dari Wafatnya KH Muhammad Bin Abdurrokhim yaitu pada hari sabtu tanggal 9 Robiul Awwal bertepatan dengan tanggal 25 Desember 1982 beliau KH Abdul Hamid juga pulang menemui kekasihNya yaitu Alloh SWT dan Nabi Muhammmad SAW. INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI’UN.
Cerita Dari  Ust Ashfihani dan keluarga bani Abduurokhim.

9.      Karena ingkar hampir terbakar
Alm KH Masykur Bin Muhammad bin Abdurrokhim suatu hari didatangi oleh seorang ulama yang cukup Alim dan memiliki Pondok pesantren di daerah Kabupaten Blitar, turut serta dalam rombongan beliau beberapa kolega dan santrinya, beliau datang dengan maksud menyampaikan dan sekaligus mengajak berdebat tentang dasar hukumnya ISHARI menurut tinjauan hukum Fiqih kepada Kyai Masykur, dengan nada sinis Kyai ini bertanya kepada kyai Masykur, “Kyai, ISHARI niku nopo karepe ? kulo tingali coro lan lelampahanipun kok katah seng melenceng saking Hukum Agomo ? dengan sedikit menahan marah Kyai Masykur menjawab, “ ngapunten enggeh kyai, kulo niki mek nerusaken lelampahanipun mbah mbah kulo lan wali wali lintune, bok bilih ISHARI niki mboten den Ridloni Gusti Alloh mungkin enggeh mboten sampe sak niki kawontenane, dadose niku mawon jawaban kulo”,  kemudian dengan raut kecewa sang kyai pulang dengan nada sinis beliau bergumam, oh tibakne mek sak mene ilmune kyai Masykur, dan kemudian sungguh luar biasa, pada malam harinya sang kyai bermimpi seakan akan beliau wafat dan berada di Alam kubur, dalam mimpinya, beliau merasa tidak mampu menjawab pertanyaan Malaikat sehingga beliau di siksa dengan semburan Api yang menjilat-jilat. Serta merta beliau berteriak menjerit minta tolong, namun tak satupun orang datang memberikan pertolongan, pada saat hampir putus asa dan dicekam perasaan takut sekali, ternyata ada sesosok tangan memegang rebana Hadroh dan menagkis serta menangkal semburan api yang hendak membakarnya sehingga beliau selamat dan tidak terbakar, begitu beliau terbangun dari tidurnya dengan seketika beliau menagis sejadi-jadinya, dan keesokan harinya beliau datang lagi ke kediaman KH Masykur untuk meminta Maaf dan sekaligus mengundang beliau untuk Acara Hadroh an di pondoknya, Al hamduliillah sampai dengan sekarang pondok tersebut setiap tahun pasti mengadakan kegiatan maulid Hadroh ISHARI.
Dari Keluarga bani Abdurrokhim

10.   Karomah Si pemanggul HADROH.
Kang Salam, begitu orang Desa Rowo gempol kecamatan Lekok memanggilnya, dia adalah seorang yang awam dan hidup dalam kemiskinan. Dan hanya hidup dengan istrinya karna tidak memiliki anak dan saudara,  setiap harinya dia bekerja makelaran (Blantik) kambing dipasar Grati Pasuruan, sebuah pekerjaan yang dianggap rendahan oleh orang kebanyakan. Tidak ada ibadah yang menonjol pada diri kang salam selain Sholat dan aktif ikut Hadroh an sebagai Anggota, dalam Hadroh pun dia tidak bisa menguasai apapun seperti mimpin, mukul rebana, bahkan jawaban sholawatnya pun dia hafal lewat pendengaran itupun banyak yang salah cara melafadzkannya, maklum dia termasuk orang yang sangat awam, namun keikhlasannya ikut Hadroh tidak diragukan lagi, bagaimana tidak, dialah yang selalu memanggul terbang Hadroh kemana-mana pada saat jamaahnya menghadiri undangan dan tak jarang pula dia yang membawakan berkat (Bhs jawa, Jamuan dari orang yang mengundang) milik teman-temannya karna memang oleh teman temannya “sengaja” dititipkan kepada dia, sebab dia tidak pernah menolak apabila dimintai pertolongan membawakan sesuatu, walaupun sebetulnya teman teman mereka melakukan hal itu dengan niat “sedikit merendahkan dia”. Namun dia selalu mengerjakan apa yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya tersebut dengan hati yang ringan, dan tiba saatnya setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian, demikian Taqdir Alloh SWT berlaku juga kepada kang Salam, dan jenazah beliau dimakamkan dipemakaman umum, tdak ada yang istimewa pada prosesi pemakaman dia, pelayatnya pun hanya masyarakat sekitar dan tidak terlalu banyak yang ikut mengantar Jenazahnya kepemakaman. Pusara makamnya pun hanyalah dari bambu yang mungkin tidak bisa bertahan lama karna akan dimakan rayap, dan persis disisi barat makam kang salam ada pohon mengkudu. Selang kira-kira 10 tahun setelah kematian kang Salam, ada seorang Kyai dikampung tersebut juga wafat, dan akan dimakamkan dipemakaman umum dimana kang salam juga dimakamkan, namun masyarakat sudah tidak bisa lagi mengenali makam kang salam karna sudah tidak ada pusaranya, maklum dia tidak punya anak dan keluarga sehingga tidak ada yang berziarah dan merawat kemakamnya. Dan masyarakat menggali makam untuk sang Kyai persis disebelah Timur pohon Mengkudu, pada saat masyarakat melakukan penggalian tersebut ternyata mereka menemukan jenazah yang utuh beraroma harum dengan bungkus kain kafan yang utuh pula, ketika dibuka kain kafannya untuk memastikan mayat siapakah gerangan yang mulya ini, dan ternyata jenazah yang utuh badan dan kain kafannya itu adalah Jenazah Kang Salam sang Pemanggul Hadroh, Subhanalloh, Wallohu Yuizzu Man Yasyak Wa Yudzillu Man Yasyak biyadihil khoir.
“ diceritakan oleh Bpk Abd Karim lekok ”



Daftar pustaka :

ΓΌ  Maulid Syarofu Al Anam Oleh Syeh ibnu Jauzii,
ΓΌ  Fathu As Shomadi Al Alim fi Syarhi Syarofi Al Anam Oleh Syeh Nawawi Bin Umar Al Bantani.
ΓΌ  Al Qonunu Al Hadroh Oleh Syeh Al Hajj Abdurrokhim.
ΓΌ  ‘Iqdu Al farid Fi Jawahiri Al Asanid Oleh Syeh Yasin Al Padani.
ΓΌ  Tanwiru Al Qulub.
ΓΌ  Al Ushulu Al Thoriq
ΓΌ  Qomus  Al Munjid
ΓΌ  Insklopedi Islam oleh Kementrian Agama terbitan Tahun 2000 M,
ΓΌ  ISHARI dari tahun ketahun Oleh PW ISHARI Jawa Timur Tahun 2013.
ΓΌ  Ulama berpengaruh di Indonesia oleh Abu An’im terbitan Mu’jizat Surabaya Tahun 2010.
ΓΌ  AD/ART NU Hasil Muktamar di Solo, Cipasung, Boyolali, Lirboyo, dan Makassar.
ΓΌ  Hasil Muktamar Jam’iyyah Ahli At Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah ke XI di Malang.

Nara Sumber :
ΓΌ  Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya Pekalongan.
ΓΌ  Al Habib Taufiq Bin Abdul Qodir As Segaf Pasuruan.
ΓΌ  KH M Bahri Ihsan Surabaya.
ΓΌ  Alm. KH Masykur Muhammad Blitar
ΓΌ  KH Mahmud Al Chusori Sami’ Mojoagung Jombang.
ΓΌ  Gus Gufron Muhammad Sepanjang dan Semua bani Abdurrokhim.
ΓΌ  Alm. KH Anshori Nasir Sidogiri.
ΓΌ  KH Munif Sya’roni Baujeng Beji.
ΓΌ  KH Ali Fikri Mahfudz Wrati Pasuruan
ΓΌ  Ir H Yusuf Arif Surabaya.
ΓΌ  PC. ISHARI Kab dan Kota Pasuruan.
ΓΌ  Tokoh dan pelaku ISHARI Pasuruan.

HAKIKAT (HADROH) ISHARI



HAKIKAT (HADROH) ISHARI

Sejak Jam’iyyah HADROH menjadi Organisasi ISHARI dan dalam perjalanannya yang mengalami perubahan posisi di NU ada hal yang terlupakan dan cenderung akan menjadi hilang apabila hal tersebut tidak dilakukan revitalisasi atau mengembalikan kembali urgensi dari pada hakikat,maksud dan tujuan dari kumpulan ini. Dan diitilik dari berbagai sudut pandang maka hakikat Hadroh ISHARI Saat Ini harus dicermati dari dua Sudut pandang yaitu :
1.   ISHARI sebagai Jam’iyyah Ubudiyyah dengan nuansa seni yang berasal dari Jam’iyyah Hadroh yaitu Kumpulan Pengamalan Toriqoh Mahabbah Rosul yang tatacara dan pelaksanaannya harus selalu terbimbing dari Mursyid (Majlis hadi yang terdiri dari Guru Hadi dan Guru Badal Hadi). Hal ini penting, demi menjaga Amaliyah dalam ISHARI tetap otentik dan bersanad sampai kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan tetap dalam koridor hukum Islam Ahlussunnah Wal jamaah.
2.   ISHARI sebagai Jam’iyah Ijtimaiyyah Islamiyyah (Organisasi Sosial keagamaan) yang kelahirannya di bidani oleh para Ulama NU atas seijin Majlis hadi maka ISHARI harus mampu membuat Peraturan, manajemen, dan penataan Organisasi dengan mengakomodir berbagai usulan jama’ah dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai serta prinsip beribadah.

Pertama, sebagai Jam’iyyah Ubudiyyah dengan nuansa seni yang mengamalkan Thoriqoh Mahabbah Rosu.l maka yang perlu di revitalisasi urgensinya adalah :
a.      Nilai setiap Ibadah ada pada Niat, oleh karena itu setiap akan melaksanakan acara ISHARI harus dimulai dengan Niat.  Dan dikerjakan dengan hati yang khusyu’ serta tulus karena Alloh dan berharap Syafaat dari Rosulillah SAW.
b.      Setiap Amalan yang dibaca serta tatacaranya harus terbimbing oleh Guru agar tidak melenceng jauh dari keasliannya dan tetap memiliki mata rantai sanad yang jelas.
c.      Mendalami dan membuka tabir makna filosofis dari setiap amalan yang tekandung didalam Hadroh seperti pemahaman makna lafadz Sholawat, Roddad (Gerakan tarian, Keplok tangan, suara kecil merintih) serta makna filosofis bunyi rebana yang bermacam macam nama dan model iramanya agar memahami maksud dan tujuan hal tersebut.
d.      Memahami aspek hukum Fiqih terkait setiap tatacara dalam Hadroh agar tidak bergeseser dari Hukum Islam Ahlis Sunnah wal jamaah.
e.      Menjaga Akhlaqul karimah baik kepada Guru,  kepada sesame jamaah, terutama pada saat melaksanakan tugas Hadroh, karna pada dasarnya sholawat Hadroh adalah upaya membersihkan hati dari berbagai penyakit hati dan berharap kehadiran Rosulillah SAW, oleh karenya maka sungguh teramat jauh dari tujuan apabila bersholawat sambil bergurau atau melakukan kegiatan lain yang dilarang oleh Agama

Kedua, sebagai Jam’iyah Ijtimaiyyah Islamiyyah (Organisasi Sosial keagamaan) maka yang harus menjadi titik perbaikan adalah :
a.      Pembuatan Aturan baru yang Akomodif terhadap kepentingan Jam’iyyah dan Jama’ah.
b.      Perencanaan Program kerja yang berkesinambungan antara Program kerja Majlis hadi dan majlis Tanfidzi.
c.      Penataan strukturisasi organisasi dengan memadukan Unsur tatacara Thoriqoh dan manajemen organisasi.
d.      Mengupayakan terobosan penggalian dana sebagai upaya penguatan operasional organisasi.